Nabi Palsu, Mati Di WC Terkena Penyakit Kolera
Ajaran Ahmadiyah banyak mendapat penentangan dari para ulama di
Di antara bunyinya: “…Engkau selalu menyebutku di majalahmu (‘Ahlu Hadits’) ini sebagai orang terlaknat, pendusta, pembohong, perusak… Maka aku banyak tersakiti olehmu… Maka aku berdoa, jika aku memang pendusta dan pembohong sebagaimana engkau sebutkan tentang aku di majalahmu, maka aku akan binasa di masa hidupmu. Karena aku tahu bahwa umur pendusta dan perusak itu tidak akan panjang… Tapi bila aku bukan pendusta dan pembohong bahkan aku mendapat kemuliaan dalam bentuk bercakap dengan Allah, serta aku adalah Al-Masih yang dijanjikan maka aku berdoa agar kamu tidak selamat dari akibat orang-orang pendusta sesuai dengan sunnatullah”.
"Aku umumkan bahwa jika engkau tidak mati semasa aku hidup dengan hukuman Allah yang tidak terjadi kecuali benar-benar dari Allah seperti mati dengan sakit tha'un, atau kolera berarti AKU BUKAN RASUL DARI ALLAH..."
Aku berdoa kepada Allah, “wahai penolongku Yang Maha Melihat, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Berilmu, Yang mengetahui rahasia qalbu, bila aku ini adalah pendusta dan perusak dalam pandangan-Mu dan aku berdusta atas diri-Mu malam dan siang hari, ya Allah, maka matikan aku di masa hidup Ustadz Tsana`ullah. Bahagiakan jamaahnya dengan kematianku –Amin–“.
”Wahai Allah, jika aku benar dan Tsana`ullah di atas kesalahan serta berdusta dalam tuduhannya terhadapku, maka matikan dia di masa hidupku dengan penyakit-penyakit yang membinasakan seperti tha’un dan kolera atau penyakit-penyakit selainnya…. Akhirnya, aku berharap dari Ustadz Tsana`ullah untuk menyebarkan pernyataan ini di majalahnya. Kemudian berilah catatan kaki sekehendaknya. Keputusannya sekarang di tangan Allah.
Penulis, hamba Allah Ash-Shamad, Ghulam Ahmad, Al-Masih Al-Mau’ud. Semoga Allah memberinya afiat dan bantuan”. (Tabligh Risalat juz 10 hal. 120)
Apa yang terjadi? Setelah berlalu 13 bulan 10 hari dari waktu itu, justru Ghulam Ahmad yang diserang ajal. Doanya menimpa dirinya sendiri.
Putranya Basyir Ahmad menceritakan: Ibuku mengabarkan kepadaku bahwa Hadrat (Ghulam Ahmad) butuh ke WC langsung setelah makan, lalu tidur sejenak. Setelah itu butuh ke WC lagi. Maka dia pergi ke
Mertuanya juga menerangkan: “Malam ketika sakitnya Hadhrat (Ghulam Ahmad), aku tidur di kamarku. Ketika sakitnya semakin parah, mereka membangunkan aku dan aku melihat rasa sakit yang dia derita. Dia katakan kepadaku, ‘Aku terkena kolera.’ Kemudian tidak bicara lagi setelah itu dengan kata yang jelas, sampai mati pada hari berikutnya setelah jam 10 pagi.” (Hayat Nashir Rahim Ghulam Al-Qadiyani hal. 14)
Pada akhirnya dia mati tanggal 26 Mei 1908.
Sementara Asy-Syaikh Tsana`ullah tetap hidup setelah kematiannya selama hampir 40 tahun. Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala singkap tabir kepalsuannya dengan akhir kehidupan yang menghinakan, sebagaimana dia sendiri memohonkannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Kini siapa yang sadar dan bertobat setelah tersingkap kedustaannya? (dkt)
Wallahu a’lam bish-shawab. (Sumber: swaramuslim)
MUSLIM ABU-ABU MENGUSUNG PARTAI ISLAM
Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak semua ummat Islam untuk mefokuskan pemikirannya dan mengkaji kembali tentang nasib ummat islam di Indonesia yang telah kehilangan hak mayoritas akibat Ummat Islam yang apatis dan sembrono dalam memilih pemimpin/ Presiden, sehingga Ummat islam sekian lama bahkan puluhan tahun menjadi Obyek para aktor politik kotor dengan menjadikan Ummat Islam sebagai kendaraan untuk kepetingan PARPOL tertentu yang hasilnya tidak lain hanya kebohongan dan pembodohan terhadap rakyat khususnya Ummat islam.
Mari kita sejenak merenung kembali, mengapa Ummat Islam di Indonesia selalu dipimpin manusia yang fasiq...? Apakah Ummat Islam selalu salah memilih pemimpin akibat kecerobohannya..? Apakah para Ulama’ sudah terbelenggu dengan urusan duniawi yang berakibat tumpulnya kekuatan Islam..? Mengapa Presiden kita dengan arogan mempertahankan suatu Isme (Ahmadiyah) yang sudah sekian lama menggerogoti Aqidah Ummat Islam..? mengapa Presiden kita sudah tidak lagi menghormati Ulama’, Kiyai apalagi Ummat Islam..? Jawabanya ada pada diri kita sendiri.
Mari kita simak maksud Firman Alloh Ta’ala: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu itu pemimpin-pemimpinmu, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran dari pada keimanan, dan barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin-pemimpinmu, maka mereka itulah orang-orang yang zalim" (Attaubah : 29)
Politisi Muslim perlu bersikap tegas dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah Islam. Bukan hanya tegas dalam masalah korupsi dan penyelewengan kekuasaan, tetapi juga tegas dalam menyikapi ide-ide sekularisme, liberalisme, pluralisme agama, dan berbagai ide yang meruntuhkan dan menyerang sendi-sendi aqidah Islam. Adalah aneh jika sejumlah politisi Muslim aktif menyebarkan ide politisi busuk untuk koruptor, tetapi tidak kritis terhadap politisi yang menyebarkan ide-ide yang meruntuhkan aqidah Islamiyah.
Cukup sudah kita berkali kali terperosok jatuh ke dalam lubang kehinaan, mari kita bersama sadar dan berhati hati dalam memilih sosok pemimpin, atau kita semua mendapat dosa dan murka Alloh Ta’ala. Bukankah Muslim itu harus pintar, cerdas, tangkas dan bijak dalam segala hal. Apalagi Muslim yang terlibat dalam lingkaran politik praktis/ anggota DPR, hendaknya benar-benar menjadi jembatan penyampaian aspirasi rakyat khususnya Ummat Islam yang memiliki hak mayoritas.
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan Ummat Islam, maka tidak termasuk golongan mereka (Ummat Islam)”. (Alhadist)
Yang lebih menyedihkan lagi, anggota DPR yang diusung dari Partai yang berlandaskan Syari’at Islam, 85% sama sekali tidak pernah menyuarakan kepentingan Ummat Islam. Misal, menyinggung semaraknya perjudian, tayangan-tayangan TV swasta yang merusak mental putra bangsa atau mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan KEPPRES pembubaran Ahmadiyah yang sudah jelas-jelas telah menodai dan mengacak-acak Aqidah Ummat Islam.
Partai Islam yang semacam ini, benar-benar telah durhaka kepada Alloh Ta’ala, mendustakan Agama Islam dan sekaligus menghianati Ummat Islam..! betapa tidak, mereka mengusung Partainya dengan menggunakan kendaraan Syari’at Islam, setelah menjadi anggota DPR dari fraksi masing-masing partai tersebut, lupa daratan lalu menyimpan Syari’at kedalam kolong aula DPR. Inikah bentuk penipuan partai Islam terhadap Ummat Islam..? sungguh sangat besar dosa mereka yang telah mempermainkan dan menjual belikan Syari’at Islam demi sedikit harta duniawi yang tidak berarti. Mending partai sosialis yang tidak pakai embel-embel Syari’at Islam ketimbang menjadikan Syari’at sebagai topeng untuk memuaskan ambisinya.
“Diantara tanda2 Qiamat, Akan datang suatu Fitnah bak gumpalan malam, pagi hari seorang dalam keadaan ber-Iman, sore harinya sudah menjadi Kafir, sore hari dalam keadaan ber-Iman, pagi harinya sudah menjadi Kafir, mereka menjual/ menukar Agamanya dengan sebagian harta duniawi/ uang yang sedikit” (Al-Hadist).
Orang-orang munafiq dalam sepak terjang mereka baik dengan jabatannya, apakah itu di DPR/MPR atau di pemerintahan sama sekali tidak memperjuangkan agama Alloh Ta’ala malah langsung atau tidak langsung mereka memusuhi Islam dalam bermacam macam kebijakan yang mereka ambil. Yang jelas orang-orang munafik itu kalau ngomong berbohong/ dusta, dan jika berjanji mereka ingkar janji dan jika dikasih amanat, mereka khianat atau mengkhianati yang memilihnya, artinya kejujuran tidak ada pada mereka, singkat kata lebih banyak menipunya.
"Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga yaitu jika ngomong / berbicara bohong, jika berjanji ingkar janji dan apabila diberi amanat mereka khianat" (Bukhari-Muslim).
Terkadang dalam benak pikiran saya terlintas, seakan akan kriteria hadist tersebut dikhususkan kepada para wakil rakyat dan pemimpin kita, seperti yang kita saksikan dan terbukti mereka kebanyakan tidak memperjuangkan aspirasi rakyat, yang ada hanya membodohi dan mengabaikan kepentingan Ummat.
Oleh karena itu, berdasarkan hukum Syar’i, HARAM...! hukumnya Ummat Islam memilih pemimpin yang Munafiq/ Fasiq apalagi Presiden yang menolak Syari’at Islam, termasuk yang tidak mendukung pembubaran Ahmadiyah. Bila kandidat presiden dan wakilnya tidak jelas kualitas keislamannya/ abu-abu, maka memilih GOLPUT itu pilihan terbaik. Apabila ada kekhawatiran suara Ummat Islam akan disalahgunakan oleh golongan tertentu, sebaiknya GOLPUT dari Ummat Islam dikordinir dan menjadikan mereka sebagai kelompok oposisi Ummat Islam.
Dalam sistem pemilu yang ada sekarang, manusia disibukkan dengan gonjang ganjing partai. Hampir semua media cetak atau media elektronik, sibuk membicarakan permasalahan ini, mulai dari jual-beli suara, perdagangan partai, iklan-iklan kepartaian, dan segala macam berita-berita politik yang berkaitan dengannya.
Alim Ulama’ dan Umaro’ bertanggung jawab dihadapan Alloh Ta’ala atas segala urusan Ummat Islam yang sedang di-Acak-Acak Aqidahnya. Katakan Benar jika itu benar..! Katakan Salah jika itu salah..! Berbuatlah untuk mendapat ridho’ Alloh.. Berbuatlah untuk bekal Akhiratmu.. Utamakan kepentingan Agama Alloh dari pada urusan Duniamu.
Secara peribadi, saya sama sekali tidak percaya kepada partai-partai Islam abu-abu maupun partai-partai yang telah mengumbar janji, toh hasilnya nihil . Betapa tidak, selama sepuluh tahun reformasi, ternyata rakyat khususnya Ummat Islam telah menjadi korban otak pedagang parpol kotor. Apakah rakyat ini harus bertahan bersabar dengan selalu menyerahkan pipi yang kanan untuk ditampar lalu kita serahkan pula pipi yang kiri agar ditampar pula..? dan begitu seterusnya.
Dengan fenomena yang seperti ini maka sudah bisa dipastikan orang yang mengikuti kebanyakan manusia mesti akan tersesat. Dalam sistem pemilu, calon sangat terbuka untuk siapapun dengan agama apapun. Ummat Islam sebagai penyumbang suara terbesar harus waspada dengan kondisi terbuka semacam ini, dimana akan muncul di
Maksud Firman Alloh Ta’ala:
Lebih jelasnya, kondisi semacam ini akibat kaum Muslim sudah banyak yang terjangkit virus kemunafikan, yang masih dikendalikan oleh hawa nafsu dan terbelenggu dalam urusan duniawi, yang mereka ingat hanya kehidupan tapi mereka lupa bahwa kematian selalu menjemput kita, cepat atau lambat.
Maksud Firman Alloh Ta’ala:
Bahkan Alloh Ta’ala dengan tegas menambahkan salah satu tandanya orang munafik seperti maksud firmanNya dalam ayat:
Pemilu ditegakkan dengan prinsip untung-untungan (spekulasi) dari yang memilih dan yang dipilih. Apakah mereka memiliki jaminan akan berhasil? Tentu tidak. Kalaulah mereka tidak memiliki jaminan keberhasilan, mengapa mereka berani melanggar batas-batas Alloh Ta’ala? Ini berarti meninggalkan perkara yang pasti benarnya untuk sesuatu yang masih berupa kemungkinan, rekaan, prasangka, dan dugaan yang tidak pasti.
Termasuk kerusakan pemilu adalah munculnya musuh-musuh Islam yang membuat partai-partai Islam sebagai jembatan untuk mewujudkan kehendak mereka. Dengan kata lain, mereka menipu kaum Muslimin untuk mendapatkan suara bagi mereka. Paling sedikitnya mereka (musuh-musuh Islam) telah berhasil membuat sebagian kaum Muslimin yakin bahwa demokrasi liberal adalah satu-satunya cara memakmurkan bangsa.
Pemilu seringkali ditegakkan dengan dukungan materi dari luar negeri, dari negara-negara Barat, Yahudi, dan Nasrani. Ini menunjukkan atas perkara penting yaitu bahwa pemilu adalah untuk kepentingan mereka. Kalau bukan untuk kepentingan mereka niscaya mereka tidak akan mengeluarkan hartanya untuk mendukung pemilu. Alloh Ta’ala berfirman, maksud ayat:
“Sesungguhnya orang-orang kafir mengeluarkan harta-harta mereka untuk menghalangi dari jalan Alloh. Maka mereka menginfakkanya dan kemudian menjadi penyesalan atas mereka.” (Al Anfal : 36).
Dengan demikian berarti kita kaum Muslimin dalam pemilu ini sedang berjalan di atas rencana mereka tanpa kita sadari. Maksud firman Alloh Ta’ala:
“Mereka bersumpah terhadap kalian agar kalian ridho’/ rela kepada mereka. Namun kalaupun kalian ridho’/ rela kepada mereka maka sesungguhnya Alloh tidak ridho’/ rela kepada kaum yang fasiq.” (At Taubah : 96).
Sudah jelas kiranya, bahwa Pemilu ditegakkan di atas kepalsuan, kedustaan, dan penipuan yang mana seluruhnya diharamkan. Semua ini adalah sebuah realita yang ada, kita semua menjadi saksi hidup terhadap apa-apa yang terjadi saat ini, di dunia maupun akhirat.
Apa-apa yang telah saya tulis semua ini, tidak ada maksud menggembosi PEMILU, mendiskreditkan golongan manapun atau tujuan-tujuan tertentu, namun saya hanya ingin memberikan penjelasan kepada khalayak ramai khususnya Ummat Islam, hendaknya jangan semberono memilih seorang pemimpin yang tidak jelas indetitas keislamanya atau kita semua (Ummat islam) akan menjadi manusia yang tersesat dan berdosa. Wa salam.
Salim Syarief MD.
Haram Memilih Presiden Yang Tidak Bertaqwa
Fatwa MUI : GOLPUT WAJIB ! GOLPUT HARAM !
Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 29 Muharram 1430 H / 26 Januari 2009 M melalui Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia III di Padangpanjang - Sumatera Barat, telah mengeluarkan Fatwa tentang GOLPUT.
Kontan saja Fatwa MUI tersebut telah mengundang PRO - KONTRA. Tidak sedikit pihak yang mencaci maki MUI, bahkan ada yang menuntut MUI dibubarkan. Terjadinya debat sengit tentang Fatwa MUI tersebut bermula dari pemberitaan berbagai media yang menginformasikan secara singkat bahwa MUI memfatwakan GOLPUT HARAM. Padahal Fatwa MUI dimaksud tidak sesederhana itu.
Dalam Keputusan Komisi Fatwa MUI tentang Masail Asasiyah Wathaniyah (Masalah Strategis Kebangsaan) di butir ke-4 dinyatakan bahwa : MEMILIH PEMIMPIN YANG BERIMAN DAN BERTAQWA, JUJUR (SIDDIQ), TERPERCAYA (AMANAH), AKTIF DAN ASPIRATIF (TABLIGH), MEMPUNYAI KEMAMPUAN (FATHONAH), DAN MEMPERJUANGKAN KEPENTINGAN UMAT ISLAM, HUKUMNYA ADALAH WAJIB.
Selanjutnya, dalam butir ke-5 disebutkan bahwa : MEMILIH PEMIMPIN YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT-SYARAT SEBAGAIMANA DISEBUTKAN DALAM BUTIR 4 (EMPAT) ATAU TIDAK MEMILIH SAMA SEKALI PADAHAL ADA CALON YANG MEMENUHI SYARAT, HUKUMNYA ADALAH HARAM.
Jika diperhatikan dengan seksama isi kandungan fatwa tersebut ternyata tidak seperti yang diberitakan media. Bahkan dengan jujur harus diakui bahwa fatwa MUI tersebut cerdas dan mendalam, karena disamping berdiri di atas hujjah yang kuat, juga mampu memposisikan diri dengan arif dan bijak, serta selamat dari jebakan politik praktis yang membahayakan.
Uniknya, jika kita ringkaskan kedua butir Fatwa MUI di atas, lalu kita tarik "MAFHUM" nya justru akan menjadi kejutan tersendiri. Perhatikan butir ke-4 sebagaimana tersebut di atas, ringkasannya adalah bahwa : WAJIB MEMILIH PEMIMPIN YANG MEMENUHI SYARAT SYAR'I. Sebaliknya, butir ke-5 ringkasannya adalah bahwa : HARAM MEMILIH PEMIMPIN YANG TIDAK MEMENUHI SYARAT SYAR'I.
Dengan demikian, MAFHUM butir ke-4 adalah HARAM GOLPUT JIKA
Disinilah cerdasnya Fatwa MUI tersebut. Fatwa itu tidak menyebut secara eksplisit tentang Haram atau Halalnya GOLPUT. Memang, bagi yang tidak mau sejenak merenung dengan nalar yang sehat dan pemikiran positif, tentu tidak mudah untuk menangkap pesan MAFHUM Fatwa dimaksud sebagaimana diuraikan di atas. Terlebih lagi bagi yang pola pikirnya selalu negatif dan sentimentatif terhadap MUI, maka tidak akan sampai kepada pemahaman yang benar.
Sebagian orang memang sulit memahaminya, apalagi dalam sejumlah dialog yang dipublikasikan, saat seorang Tokoh MUI didesak dengan pertanyaan : "Jika tidak ada pilihan yang memenuhi syarat, apa kita boleh GOLPUT ?" Dengan tangkas Sang Tokoh menjawab :" Masa' sih, di antara sekian banyak calon pemimpin tidak ada yang memaenuhi syarat ? Tentu ada !"
Sekali lagi, itulah cerdasnya MUI, tidak terpancing dengan desakan pertanyaan di atas yang sebenarnya ingin menjebak MUI agar menjawab GOLPUT itu BOLEH atau TIDAK BOLEH. Pancingan tersebut berbahaya, karena ingin menggiring MUI ke dalam POLITIK PRAKTIS.
Karenanya, tidak heran jika ada yang terpeleset dalam memahami Fatwa MUI tersebut.
Bagi FPI, Fatwa MUI tersebut sudah pas dan tepat, karena FPI memahami Fatwa tersebut dengan kesimpulan sederhana, yaitu : HARAM GOLPUT JIKA ADA PILIHAN PEMIMPIN YANG MEMENUHI SYARAT SYAR'I. Sebaliknya, WAJIB GOLPUT JIKA TIDAK
Sedang soal apakah ada calon yang memenuhi syarat syar'i atau tidak, maka hal tersebut kembali kepada Fakta Lapangan. Yang jelas, sikap FPI sesuai Fatwa Ketua Umum FPI, Hb.Muhammad Rizieq Syihab, yang sudah menjadi Keputusan Munas II FPI pada Desember 2008 lalu bahwa HARAM PILIH PARPOL / CALEG / CAPRES / CAWAPRES YANG TIDAK MENDUKUNG PEMBUBARAN AHMADIYAH ATAU YANG BERHALUAN SEPILIS (SEKULARISME, PLURALISME DAN LIBERALISME), TERMASUK SBY - JK JIKA TIDAK BUBARKAN AHMADIYAH ATAU TERUS MENERUS MEMBIARKAN KAUM SEPILIS MENISTAKAN DAN MENODAI ISLAM.
Nah, Fatwa FPI tersebut sejalan dan senafas dengan ruh Fatwa MUI, karena para PENDUKUNG AHMADIYAH atau PEMBELA SEPILIS jelas tidak memenuhi syarat syar'i untuk jadi pemimpin, sehingga HARAM DIPILIH, termasuk semua TOKOH AKKBB (Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan) atau pun yang membela dan melindunginya. Silakan lihat DAFTAR NAMA TOKOH AKKBB dalam PLEDOI HABIB RIZIEQ di bagian kedua , agar kita tidak salah memilih. Namun jangan lupa, sejumlah Tokoh yang tidak tercantum dalam daftar tersebut tapi ikut membela dan melindungi mereka, juga HARAM DIPILIH, termasuk yang membiarkan tidak memproses mereka secara hukum terkait peran mereka sebagai BIANG KEROK INSIDEN MONAS 1 JUNI 2008 sebagaimana pengakuan Kapolri di DPR RI pasca kejadian tersebut.
Jadi, Fatwa MUI sangat dinamis dan spektrumnya luas, maka pahamilah pesan mafhumnya secara seksama. Hanya saja memang, MUI perlu didorong agar lebih berani untuk berfatwa tentang DEMOKRASI, apa bagian dari Islam atau bukan ?! Sebab itulah akar persoalannya. Jika Demokrasi bukan bagian dari ajaran Islam, maka semua produk sistemnya harus ditolak. Jangan kita sibuk berfatwa tentang produknya, sementara sumber produknya kita tutup mata. Semoga MUI berjaya dan selalu istiqomah di jalan Allah SWT. (FPI)
(Dalam Peristiwa Isra' Dan Mi'raj)
"Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: "Siapakah ini wahai Jibril"? Jibril menjawab: "Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Sholat fardhu". (Riwayat Tabrani).
Maksud Firman Allah Ta’ala:
"..Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata: "Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam Neraka Saqor ?". Orang-orang yang bersalah itu menjawab: "kami termasuk dalam kumpulan orang-orang yang tidak mengerjakan Sholat" Al-ayat.
Siksa Bagi Yang Melalaikan Sholat Lima Waktu



Photo tertera adalah seorang pemuda berusia 18 tahun yang meninggal di salah satu rumah sakit di Oman. Mayat pemuda tersebut digali kembali dari kuburnya setelah 3 jam di makamkan yang disaksikan oleh ayahnya. Pemuda tersebut meninggal di rumah sakit dan setelah dimandikan, dimakamkan secara islam di hari itu juga. Tetapi setelah pemakaman ayahnya merasa ragu atas diagnosa dokter dan menginginkan untuk di identifikasi kebenaran penyebab kematiannya.
Seluruh kerabat dan teman-temannya begitu terkejut saat mereka melihat kondisi mayat. Mayat tsb begitu berbeda dalam 3 jam. He turned grey as the very old man, wajah dan rambutnya tampak keabu-abuan seperti orang yang sudah tua.
Dengan tampak jelas bekas siksaan dan pukulan yang amat keras,dan dengan tulang-tulang kaki dan tangan yang hancur. Seluruh badan dan mukanya memar. Matanya yang terbuka seakan memperlihatkan ketakutan, kesakitan dan keputus-asaan. Darah yang begitu jelas menandakan bahwa pemuda tersebut sedang mendapatkan siksaan yang amat berat. konon menurut ayahnya, anak tersebut tidak pernah mengerjakan sholat fardu.
Maksud Firman Allah Ta’ala: "Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat diwaktu orang-orang yang dhalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, : "Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya. (Al-Anam : 93).
Palestina Bantu Kermerdekaan Indonesia

Sebagai orang
Dari berbagai sumber yang diperoleh, Sukarno-Hatta boleh saja memproklamasikan kemerdekaan RI de facto pada 17 Agustus 1945, tetapi perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain. Pada poin ini kita tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh tokoh Timur Tengah, sehingga Negara
Gong dukungan untuk kemerdekaan
Kenapa Kita Memikirkan Palestina?
M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan
Dukungan Palestina ini diwakili oleh Syekh Muhammad Amin Al-Husaini -mufti besar Palestina- secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia: pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al-Husaini (beliau melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia.
Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al-Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan. Syekh Muhammad Amin Al-Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan
Bahkan dukungan ini telah dimulai setahun sebelum Sukarno-Hatta benar-benar memproklamirkan kemerdekaan RI. Seorang Palestina yang sangat bersimpati terhadap perjuangan
Ketika terjadi serangan Inggris atas
Yang mencolok dari gerakan
Mereka menggunakan puluhan motor-boat dengan bendera merah putih? tanda solidaritas- berkeliaran di permukaan air guna mengejar dan menghalau blokade terhadap motor-motor- boat perusahaan asing yang ingin menyuplai air & makanan untuk kapal “Volendam” milik Belanda yang berupaya melewati Terusan Suez, hingga kembali ke pelabuhan.
Sekarang bagaimana rasannya saat melihat bendera kita di kibarkan oleh bangsa lain dengan kesadaran penuh menunjukan rasa solidaritasnya, karena mereka peduli Wartawan ‘Al-Balagh’ pada 10/8/47 melaporkan: “Motor-motor boat yang penuh buruh Mesir itu mengejar motor-boat besar itu dan sebagian mereka dapat naik ke atas deknya. mereka menyerang kamar stirman, menarik keluar petugas-petugasnya, dan membelokkan motor-boat besar itu kejuruan lain.”
Tentu saja, motivasi yang kita bangun tidak hanya dari aspek historis, namun ini kita dapat ambil sebagai sebuah pelajaran untuk mengingatkan kembali betapa palestina pernah melakukan hal yang sama terhadap
Dibalik Rahasia Sunnah Memakai Siwak
Siwak/ pembersih gigi, adalah sebatang kayu berasla dari pohon “Arok” (pohon-pohonan yang banyak tumbuh di wilaya Timur tengah), sering kali dijumpai oleh para jama’ah Haji/ Umrah di Kota Makkah Maupun Madinah Al-Munawwarah. Sayang sekali para Jama’ah Haji/ Umrah tidak membeli dan menjadikan sebagai oleh-oleh Haji/ Umrah untuk keluarga, rekan-rekan dan para tetangganya agar mereka dapat menjalankan Sunnah dengan memakai Siwak mengingat keutamaan Siwak sangat besar. Nabi Muammad SAW, selalu memakai siwak ketika hendak bwerwudhu’, Sholat, membaca Al-Quran dan hal-hal kebaikan yang lain termasuk hendak tidur dan bangun dari tidur. Bahkan detik detik wafatnya Nabi Muhammad SAW, Beliau mencari dan menggunakan Siwak.
Nabi Muhammad SAW, sangat menganjurkan bagi UmmatNya untuk selalu memakai Siwak paling tidak minimal setiap hendak berwudhu’ dan Sholat. Mari kita simak beberapa Hadist, Sebagai berikut: Maksud Hadist, “Andai saja tidak memberatkan UmmatKu, maka Akan aku perintahkan (wajibkan) memakai Siwak setiap hendak wudhu”. Dalam riwayat yang lain, ….setiap hendak Sholat. (Bukhari).
Dalam Hadist Yang lain, Maksud Hadist: “Sholat dua raka’at menggunakan siwak lebih baik dari 70 raka’at tanpa Siwak”.
Riwayat yang lain, “Keutamaan Sholat dengan memakai Siwak, akan mendapat 70 kali lipat (pahala Sholat) tanpa Siwak”.
Bersiwak hendaknya dengan menggunakan batang yang lembut dari pohon arok, zaitun, urjun atau yang sejenisnya yang tidak menyakiti atau melukai mulut.
Bersiwak adalah termasuk dari bagian sunnah para Rasul, sebagaimana Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub ra: Maksud Hadist: “
Hukum Memakai Siwak
Memakai Siwak hukumnya sunnah muakkad yang sangat dianjurkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW, karena Beliau SAW tidak pernah meninggalkan memakai Siwak, khususnya ketika hendak berwudu’, Sholat, membaca Alqur’an dan bangun dari tidur. Dalam Hadist yang diriwayatkan, ada seorang yang bertanya kepada Aisyah ra, tentang sesuatu yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW ketika Beliau SAW telah memasuki Rumahnya? Aisyah menjawab “Beliau SAW memulainya dengan bersiwak” ( Bukhari dan Muslim).
Ingat..! satu kali anda bertasbih kepada Allah dengan diawali beriwak, maka dihitung 70X bertasbih. Sholat dengan diawali dengan bersiwak, akan terhitung 70X sholat. Dua rakaat Sholat tahajjud diawali dengan bersiwak, maka dihitung 140 rakaat tahajjud. Subhanallah..
Khusus bagi yang sedang berpuasa, disunnahkan memakai Siwak dari fajar hingga waktu zawal/ dhuhur adapun setelah zawal hingga terbenamnya matahari maka hukumnya makruh (pendapat Imam Syafi’i).
Faedah-faedah Memakai Siwak:
1.Menambah kefashihan membaca. 2.Menambah kecerdasan akal. 3.Menguatkan Hafalan. 4.Menerangkan mata. 5.Mempermudah proses sakaratul maut. 6.Menjahukan musuh. 7.Melipat gandakan pahala. 8.Memperlambat ketuaan. 9.Mengharumkan bau mulut. 10.Menghilangkan lendir dan kekuningan gigi. 11.Menguatkan gusi. 12.melonggarkan tenggorokan. 13.Menyebabkan ridha’ Allah Ta’ala. 14.Memutihkan gigi. 15.Mewariskan kekayaan dan kemudahan. 16.Menghilangkan penyakit pening dan ketegangan urat kepala. 17.Mensehatkan pencernakan makan dan munguatkannya. 18.Membersihkan hati. dan paling utama Yaitu, mengingatkan bacaan Syahadat disaat sakaratul maut.
Cara bersiwak
Cara bersiwak tidak ada ikhtilaf diantara ulama’. dalam sebuah Hadist bahwa Rasulullah SAW bersiwak dengan kayu arok, dan memulainya dari pertengahan, lalu kearah kanan lalu kekiri, demikian diulangi. sebanyak 3 X.
Panjang Siwak yang paling ideal (disunnahkan) adalah sejengkal dan yang paling pendek berukuran tidak kurang dari 4 jari selain ibu jari (12 Cm menurut pendapat lain) Besar kayu Siwak yang ideal adalah tidak lebih besar dari ibu jari dan tidak lebih kecil dari jari kelingking, tidak terlalu keras dan tidak terlalu lembut.
Siwak Menurut Medis
Dari penelitian menunjukkan bahwa kayu siwak (Salvadora persica) mengandung bahan-bahan kimiawi yang bermanfaat untuk menekan aktivitas mikrobial dan menghambat pertumbuhannya. Penelitian daya hambat kayu siwak (Salvadora persica) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yang patogen terhadap mulut, dapat menunjukkan kemampuan kayu siwak sebagai salah satu alternatif zat antibakterial yang memang seharusnya dikembangkan sebagai komoditas oral cleaner device (alat pembersih mulut) yang higinis dan efektif dalam mencegah periodontal disease. Penelitian terhadap Staphylococcus aureus yang merupakan patogen pada saluran pernapasan, kulit dan luka dapat pula menunjukkan bahwa kayu siwak bukan hanya efektif sebagai komponen antibakterial mulut, namun juga efektif sebagai antibakterial yang memiliki spektrum lebih luas. (Penelitian ini dikembangkan oleh Mahasiswa Biologi FMIPA ITS).
Mari kita simak, Jika Anda pergi ke Masjid untuk Sholat berjama’ah di zaman ini, mungkin Anda melihat sedikit sekali di antara jama’ah yang bersiwak sebelum Sholat. Maka ketika Anda bersiwak sebelum Sholat di zaman ini, berarti Anda telah menghidupkan kembali sunnah Rasulullah SAW. adapun pahalanya itu seperti pahala syuhada (100 orang mati Syahid). Setidaknya Anda akan mendapat pahala seperti orang-orang yang mengikuti Anda dalam bersiwak, tanpa mengurangi pahala orang tersebut.
By. Salim Syarief MD.
